Mengenal Hawu, Alat Memasak Tempo Dulu Bagi Masyarakat Sunda

ilustrasigambar oleh wikipedia.org (edited by zaeabjal.my.id)


Mengenal Hawu, Alat Memasak Tempo Dulu Bagi Masyarakat Sunda


Bagi masyarakat Sunda (terutama yang sudah generasi old), pasti sudah tahu apa yang namanya Hawu. Ya Hawu itu adalah tempat memasak pada zaman dahulu, sebelum kemudian peranti kompor menggantikannya.


Memang alat ini nggak cuma digunakan oleh masyarakat Sunda saja pada masa itu. Tapi mungkin di daerah lain juga sama. Hanya saja namanya mungkin bisa berbeda. Sementara kalau di daerah Sunda ya disebutnya Hawu.


Tapi sebenarnya Hawu itu apa sih filosofinya? Dan sejak kapan ia mulai digunakan? Berikut ini adalah sejarah singkatnya.


Hawu berasal dari kata awu (bahasa Jawa) yang berarti abu. Sedangkan abu dalam bahasa Sunda disebutnya lebu. Jadi hawu adalah tempat terkumpulnya abu atau lebu. Sementara masyarakat Sunda mengenal hawu sebagai tungku tempat kegiatan masak memasak (membuat makanan).



Hawu dibuat dengan cara cukup sederhana. Diantaranya dengan menggunakan adonan tanah liat dan batu, tumpukan bata merah serta ada juga yang terbuat dari gerabah dilapisi adonan tanah liat.


Hawu dibuat sedemikian rupa agar api dari suluhnya (baca: kayu bakar) dapat keluar melalui satu atau dua lubang di bagian atas hawu. Dan lubang tersebut digunakan untuk meletakkan panci, cerek/teko, dandang, atau wajan, saat memasak.


Sedangkan pelengkap hawu adalah songsong, yaitu alat berbentuk pipa yang biasanya terbuat dari batang bambu. Alat ini digunakan untuk meniupkan udara ke dalam hawu, dengan tujuan agar api yang keluar, bisa menyala dengan lebih besar.


Sementara itu lebu atau abu sisa pembakaran dari hawu, oleh masyarakat Sunda sering dimanfaatkan untuk membersihkan perabotan rumah tangga. Selain itu, lebu juga bisa digunakan sebagai bahan untuk proses memasak yang lebih dikenal dengan istilah dibubuy dan dipepes.


Tapi makanan yang dibubuy biasanya hanya berupa umbi-umbian. Seperti misalnya ubi kayu dan singkong. Proses dan cara memasaknya adalah masukkan kedua jenis umbi tersebut (tanpa dikupas kulitnya) ke dalam timbunan lebu yang masih panas, selama kurang lebih 10-15 menit


Setelah matang, kemudian angkat kedua umbi-umbian tersebut dan lalu kupas kulitnya sebelum nanti bisa dinikmati. Sajian makanan dengan cara dibubuy ini, biasanya dihidangkan bersama minuman teh hangat atau kopi panas.


Berbeda halnya dengan proses bubuy, cara memasak dengan dipepes umumnya digunakan pada ikan atau jamur. Proses dan caranya adalah bahan masakan yang sudah dicuci bersih dan dibumbui lalu dibungkus dengan daun pisang, kemudian dimasukkan ke dalam timbunan abu panas. Setelah itu, angkat jika dikira sudah matang untuk kemudian siap dihidangkan.


Oh ya bara api di dalam hawu juga bisa digunakan untuk membakar ikan, memanggang ikan, dan atau memanggang opak. Jadi memang hawu itu sejatinya multifungsi. Sebab ia bisa digunakan apa saja. Pun begitu juga sisa pembakarannya atau abunya. Bahkan arang yang dihasilkan dari hawu yang masih membara juga bisa digunakan untuk menyetrika.


ilustrasi gambar oleh kompasiana.com (edited by zaeabjal.my.id)


Masyarakat Sunda sendiri terutama yang hidup di pedesaan, sering menggunakan hawu buat memasak atau menanak nasi. Dan alat yang digunakan dandang atau seeng. Karena menurut mereka, ada dua keuntungan memasak dengan menggunakan dandang.


Pertama dapat memasak nasi dan air untuk minum sekaligus. Kedua memasak nasi di hawu (terlebih kalau memakai dandang), bisa menghasilkan nasi dengan aroma dan rasa yang lebih nikmat. Dan ini berbeda sekali jika seumpama memasak nasi di atas kompor minyak atau kompor gas.



Hawu ini biasanya kalau di dalam rumah, berada di pawon (baca: dapur) dan posisinya diletakkan di lantai tanah. Sementara untuk tempat menyimpan hawu dinamakan parako, yang berbentuk persegi atau kotak dan terbuat dari papan kayu (dulu) atau batu yang dilapisi tanah liat.


Terus parako ini juga biasanya ditempatkan di pawon yang posisinya sejajar dengan palupuh. Tapi kadang ada juga parako yang dibuat lebih rendah posisinya dari palupuh atau langsung disimpan di atas tanah pawon dan disebut parako ngupuk.


*Palupuh= lantai rumah panggung yang terbuat dari bambu yang dipecah dengan cara memanjang


Setelah parako dibuat, di tengah-tengah kotaknya kemudian diisi dengan lebu atau pasir hingga penuh dan permukaannya menyamai papan kayu parako. Selanjutnya di atas lebu yang di tengah-tengah kotak itu, diletakkan hawu dengan jarak yang aman dari kayu parako. Ini dikarenakan api di dalam hawu bisa menyala besar.


Jadi manfaat parako adalah untuk menjaga api agar tidak merembet atau menyebar pada papan atau palupuh rumah panggung yang bisa menyebabkan rumah menjadi kebakaran. Dan lebu atau abu hasil pembakaran kayu bakarnya, tidak menyebar kemana-mana tetapi terkumpul dekat hawu.


Selain tempat menyimpan hawu, parako juga berfungsi sebagai tempat menyimpan songsong. Songsong in fungsinya adalah agar kayu bakar dapat menyala dengan baik. Dan parako ini juga bertugas sebagai tempat menguraikan lebu dalam hawu jika sudah penuh.


Terus lebu dan bara api yang diuraikan dalam parako tadi, bisa dimanfaatkan untuk ngabubuy umbi-umbian, membuat pepes ikan, jamur; atau membakar ikan, terasi, dan sebagainya. Namun cara membakarnya adalah dengan didekatkan pada bara api tersebut.


Masyarakat Sunda juga biasa memanfaatkan tempat di atas hawu dan parako dengan membuat para seuneu. Yaitu tempat menyimpan hasil pertanian seperti ubi, singkong kering, jagung, dan sebagainya. Tujuannya adalah biar sedikit hangat dan juga untuk menghindari gangguan dari tikus dan kucing.


Nggak hanya itu. Para seuneu pun biasa digunakan untuk menyimpan kayu bakar yang diperoleh dari hutan atau kebun. Tujuannya adalah agar kayu bakar lebih cepat kering, dan yang kering jadi semakin mengering, sehingga nantinya lebih cepat terbakar saat proses memasak.


Pawon yang ada hawu-nya pun sering digunakan tempat untuk berkumpul anggota keluarga. Biasanya mereka berkumpul dan mengobrol di seputar hawu sambil siduru (menghangatkan badan), terutama saat cuaca di luar sana sedang dingin.


Jangan salah lho! Pada saat sedang berkumpul tersebut, terkadang diwarnai dengan obrolan-obrolan yang serius. Seperti misalnya tentang rencana-rencana kegiatan keluarga di kemudian hari, atau tentang keputusan penting dalam keluarga yang hendak diambil.


Terus biasanya saat sedang mengobrol sambil menghangatkan badan itu, akan diselingi dengan membuat bubuy ubi atau singkong. Tentu saja sambil menunggu matang, mereka pun masih dalam keadaan di depan hawu dengan sambil tetap menghangatkan badan.


Setelah matang, mereka lalu akan ngopi bubuy ubi atau singkong tersebut secara bareng-bareng, yang kadang disertai juga dengan minum teh hangat tanpa gula atau kopi panas. Dan untuk teh hangatnya ini, memang akan selalu tetap hangat. Itu karena air tehnya selalu disimpan di atas hawu, dengan sisa bara yang tetap terjaga panasnya.


Oh ya ngopi pada kata ngopi bubuy, dalam hal ini bukan diartikan sebagai minum kopi. Tapi itu istilah bagi orang Sunda, yang artinya menikmati makanan ringan buat sebagai “pengganjal perut”.


Aktivitas siduru ini biasanya dilakukan pada pagi-pagi sekali. Terutama pada saat orang Sunda melakukan aktivitasuntuk membuat sarapan. Dan selama proses membuat sarapan tersebut, biasanya mereka melakukan siduru dengan posisi jongkok sambil mengelilingi hawu.


Setelah selesai sarapan (yang biasanya dilakukan masih di sekitaran hawu), para anggota keluarga itu akan bubar jalan. Selanjutnya mereka akan melaksanakan kegiatan rutinnya masing-masing. Seperti misalnya untuk anak-anak akan pergi sekolah, untuk orang tua akan pergi ke kebun, ke sawah, atau ke kolam, serta untuk para pegawai akan pergi ke tempat kerjanya.


Keterangan: Sumber artikel berasal dari sini, namun dengan beberapa sedikit perubahan.

Post a Comment for "Mengenal Hawu, Alat Memasak Tempo Dulu Bagi Masyarakat Sunda"