ilustrasi gambar oleh rupa-rupa.com (edited by zaeabjal.my.id)
Semesta Kecil Itu Bernama Bumi
Rumah adalah tempat tinggal manusia. Dan fungsi diantaranya adalah untuk tempat berlindung dari cuaca atau binatang, tempat berkumpul keluarga, istirahat dan tidur. Sementara dalam tradisi dan budaya Sunda, rumah biasanya disebut 'bumi' atau 'imah' (dalam bahasa Sunda kasarnya).
Terkait penyebutan Bumi ini, terlihat agak rancu ya. Soalnya bumi dalam bahasa Indonesia adalah untuk menyebut planet di tata surya kita. Lebih jelasnya ia adalah satu-satunya planet yang ditempati oleh kita sebagai manusia. Karena sejauh ini belum ditemukan lagi planet yang layak di tempati oleh manusia, hewan dan ataupun tumbuhan yang sempurna terkecuali bumi.
Bumi atau rumah bagi orang Sunda sendiri ibarat sebuah Mikrokosmos (semesta kecil) atau Karuhun (leluhur). Dan dulu dari segi arsitekturnya sangat identik dengan rumah panggung, yaitu rumah yang dibuat dari rangka kayu dan ditutup dari anyaman bambu (bilik).
Tinggi rumah panggung biasanya dari tanah sekitar 40-60 cm, yang tersusun dari balok-balok kayu rumah dan berpijak langsung ke batu pondasi. Terus bagian atap penutup ditutup ijuk dari aren atau daun palem, serta berlantai kayu atau bambu yang dirajang.
Secara teknik, rumah panggung memiliki tiga fungsi, yaitu:
1. Tidak mengganggu bidang resapan air,
2. Bawah rumahnya atau kolong, dibuat sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang, baik untuk kehangatan dan kesejukan,
3. Kolong juga bisa dipakai untuk menyimpan persediaan kayu bakar atau buat kandang hewan peliharaan unggas (ayam atau bebek).
Sejatinya rumah adalah penanda budaya dan warisan sejarah serta dibangun dengan arsitektur dan teknologi sesuai jamannya. Bahkan kadang dipengaruhi budaya, alam sekitar, dan kepercayaan. Dan seperti itu juga yang terdapat di rumah panggung.
Rumah panggung mempunyai ruang-ruang yang sudah ditentukan, baik fungsi dan namanya. Seperti misalnya sebelum kita memasukinya, biasanya ada pagar dan halaman. Terus di dalamnya terdapat ruang-ruang yang mempunyai fungsi dan aturan tak tertulis bagi anggota keluarga yang terikat pada pandangan sosial-relijius di masyarakatnya.
Terkait ini, orang tua dahulu bahkan sangat hati-hati dalam membuat rumah. Dimulai dari sistem perhitungan tanggal atau waktu, arah, posisi tanah dan dampak yang akan di timbulkan, baik bagi penghuni rumah, lingkungan dan alam sekitar.
Di Jawa Barat, terdapat bermacam-macam jenis rumah adat yang berbeda-beda baik atap, struktur bangunan dan nama rumah. Seperti diiantaranya: tagog Anjing, Badak Heuay, Jolopong, Parahu Kumureb, Julang Ngapak, Capit Gunting, Jubleg Nangku, Buka Palayu hingga Buka Pongpok.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, kalau rumah panggung itu biasanya mempunyai kolong yang biasanya dipakai untuk menyimpan kayu bakar atau memelihara ternak. Lalu di ruang depan sering dinamakan 'Tepas', yang biasanya berlantai kayu atau bale dari bambu yang dirajang (palupuh) yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu atau berkumpulnya kaum laki-laki.
Selanjutnya di depan tepas disebutnya 'golodog', yang berbentuk seperti bangku yang berfungsi untuk membersihkan kaki. Atau biasa juga dipakai untuk mengobrol dan menampi beras. Selain itu ada juga golodog yang berbentuk seperti tangga buat sebagai pijakan.
Setelah 'Tepas', kemudian masuk ke dalamnya yang terdapat ruang yang melewati pintu. Dan ruang itu biasanya disebut 'Tengah bumi' atau ruang tengah. Tapi ruang ini bersifat netral secara peran bagi anggota keluarga. Karena ruang tengah ini bisa dipakai oleh seluruh anggota keluarga, ruang tempat berkumpul dan berfungsi juga buat tempat menerima tamu.
Selanjutnya di sudut ruang tengah biasanya ada kamar yang di sebut 'Pangkeng' atau kamar untuk beristirahat dan tidur. Dan ruang tersebut adalah wilayah milik orangtua yang di dominasi perannya oleh kaum perempuan atau ibu. Bahkan karena hal ini, dahulu anak- anak dianggap tabu, buat memasukinya terkecuali anak yang masih kecil atau ada ijin orangtua.
Kemudian memasuki ruang belakang sebelum dapur, biasanya di temui ruangan yang bernama 'Goah' atau ada yang menyebut padaringan. Goah berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan atau kebutuhan pangan rumah tangga. Tapi ruang ini perannya lebih ke orangtua terutama kaum ibu.
Dan ruang terakhir dari rumah panggung atau rumah adat Sunda adalah dapur atau yang biasa disebut pawon. Pawon ini ada yang langsung berlantai tanah, namun ada juga yang berlantai kayu dan bambu. Sedangkan buat tempat memasak atau kompornya dinamakan 'Hawu' atau 'Parako', yang sudah pernah kita bahas sebelumnya di sini.
Sebagaimana umumnya dapur, tentunya ruang ini sudah pasti perannya didominasi kaum ibu. Pun demikian halnya dengan pawon. Terus dari dapur ini, biasanya ada pintu keluar buat menuju halaman belakang. Dan biasanya di sana terdapat sumur gali untuk kebutuhan menyuci, minum dan lainnya.
Selain itu di halaman belakang juga biasanya sering ditanami tanaman-tanaman untuk keperluan bumbu dapur, pohon yang daunnya bisa dipakai lalapan dan atau umbi-umbian. Tujuannya adalah biar kalau suatu saat membutuhkannya, kita tak perlu membelinya ke pasar atau ke warung.
Itulah sebagian dari fungsi dan makna rumah di masyarakat Sunda, termasuk rumah panggung tentunya yang notabene rumah khas adat dari daerah ini. Dan Bumi atau Imah adalah sebutan dalam bahasa mereka untuk bangunan buat tempat tinggal ini.
Rumah panggung sendiri bisa diartikan sebagai penanda dan lahirnya budaya lokal. Karena ia bisa melahirkan pendidikan etika (adat), sosial, arsitektur dan keyakinan (agama) bagi anggota keluarganya. Selain itu ia juga bisa menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Dan memang budaya yang mengajarkan bahwa alam adalah titipan, sejatinya harus dijaga dan dilestarikan. Sebab ini adalah kearifan lokal yang melahirkan visi dan bisa menjadi solusi bagi kita semua. Semoga nilai-nilai kearifan lokal ini yang tentunya sudah wariskan oleh leluhur negeri ini, bisa kita terapkan di masa sekarang dan yang akan datang. Amiin
Keterangan: Sumber berasal dari sini, namun dengan beberapa sedikit perubahan.

Sangat suka denga rumah adat setiap daerah termasuk dari sunda
ReplyDeletesayangnya zaman sekarang sudah jarang ditemukan rumah2 seperti itu..
Delete