ilustrasi gambar oleh pixabay (edited by zaeabjal.my.id)
Mengulik Sejarah Asal Usul Nama Sunda
Ketika membahas asal-usul nama Sunda, kita harus melihat sejarahnya ke masa lalu terlebih dahulu. Karena selain dikenal sebagai salah satu nama suku di Indonesia yang berada di wilayah bagian barat pulau Jawa, secara historis juga merujuk kepada sebuah nama kerajaan kuno yang pernah berdiri di era abad ke-10.
Ya nama Kerajaan itu adalah Kerajaan Sunda, yang merupakan penerus dari Kerajaan Tarumanagara yang berkuasa di bagian barat pulau Jawa. Selain itu nama Sunda juga dapat merujuk pada istilah dalam geologi untuk menyebut landas kontinen perpanjangan lempeng benua Eurasia di Asia Tenggara. Yang mana massa daratan utamanya, meliputi Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Madura, Bali, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Etimologi Sunda
Sementara itu menurut G.P. Rouffaer, nama Sunda berasal dari istilah bahasa Sanskerta yaitu “Suddha” yang mempunyai pengertian murni, bersih, putih. Sedangkan dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali yang juga terdapat kata Sunda, pengertiannya adalah bersih, suci, murni, tak tercela/bernoda.
Terus nama Sunda juga dikenal dalam wiracarita Mahabharata. Yang mana kata ini merujuk pada tokoh asura bersaudara bernama Sunda dan Upasunda yang dikenal sakti karena menerima anugrah kekebalan dari Dewa Brahma.
Selain itu seorang ahli geologi Belanda yaitu Reinout Willem van Bemmelen, juga mengungkapkan bahwa Sunda adalah suatu istilah yang digunakan untuk menamai daratan di bagian barat laut India Timur. Sedangkan di daratan bagian tenggaranya dinamai Sahul.
Sunda Dalam Sumber Sejarah
Jadi intinya adalah bahwa nama Sunda itu banyak disebutkan di dalam berbagai sumber sejarah. Baik itu berupa prasasti, naskah maupun berita asing. Dan berikut ini adalah beberapa sumber sejarah yang menyebutkan nama Sunda:
Prasasti
Bukti tertulis tertua yang menyebutkan toponimi Sunda adalah prasasti Kebonkopi II, yang berangka tahun 854 Śaka (932 M). Prasasti ini ditemukan di Kampung Pasir Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada abad ke-19 pada saat dilakukan penebangan hutan untuk lahan perkebunan kopi.
Seorang pakar yang bernama F.D.K. Bosch, sempat mempelajarinya. Setelah itu diketahui bahwa ternyata prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno. Terus pada prasasti tersebut ditemukan kalimat “…ba(r) pulihkan hajiri sunda…”. Dan kalimat ini kalau diartikan maknanya adalah “memulihkan Raja Sunda”.
Sementara itu prasasti lebih muda yang menyebut nama Sunda adalah prasasti Sanghyang Tapak, yang terdiri dari empat batu prasasti dengan tarikh tahun 952 Śaka (1030 M). Prasasti ini ditemukan di tepi Sungai Cicatih, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat. Tiga dari empat batu prasasti itu ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang. Sedangkan yang satunya lagi ditemukan di Kampung Pangcalikan.
Prasasti Sanghyang Tapak ditulis menggunakan aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuno. Dan dalam prasasti ini ditemukan kalimat “…ginaway denira shri jayabhupati prahajyan sunda…” yang berarti maknanya adalah “dibuat oleh Sri Jayabhupati raja Sunda”.
Nama Sunda juga disebutkan dalam prasasti Horren, yang ditemukan di Kecamatan Campur Darat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke-11. Di prasasti ini menyebutkan bahwa adanya persinggungan antara kerajaan Jawa dan Sunda. Karena di dalamnya terdapat kalimat “…datang nikanang çatru sunda…” yang berarti “datanglah musuh (dari) Sunda”.
Naskah
Selain dalam bentuk batu tulis atau prasasti, nama Sunda juga tercatat dalam naskah-naskah kuno. Seperti di antaranya pada naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (kropak 630). Naskah ini memiliki candrasangkala nora catur sagara wulan atau sama dengan tahun 1440 Śaka (1518 M).
Naskah Sanghyang Kandang Karesian ini ditulis menggunakan aksara Buda dan bahasa Sunda Kuno. Dalam naskah ini ditemukan kalimat “…anggeus ma urang pulang deui ka Sunda, hanteu bisa carék Jawa…” yang berarti "setelah kita kembali ke Sunda, tidak dapat berbicara bahasa Jawa”.
Terus nama Sunda juga termaktub dalam naskah Amanat Galunggung (kropak 632). Naskah ini diperkirakan disusun pada abad ke-15, serta ditulis pada daun lontar dan nipah dengan menggunakan aksara Buda dan bahasa Sunda Kuno.
Dalam naskah Amanat Galunggung (terutama pada bagian rectonya), ada kalimat yang berbunyi “…jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung…”. Kalimat itu mengandung arti “waspadalah kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda, Jawa, Lampung”.
Naskah berikutnya yang menyebut nama Sunda yaitu naskah Bujangga Manik. Naskah ini diperkirakan disusun pada akhir abad ke-15, serta ditulis pada daun nipah menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno.
Dalam naskah Bujangga Manik, sempat ditemukan kalimat “Sadatang ka tungtung Su(n)da, meu(n)tasing di Cipamali, datang ka alas Jawa” yang artinya adalah “Setelah mencapai ujung dari Sunda, menyeberangi sungai Cipamali, tibalah di daerah Jawa”.
Sedangkan naskah lebih muda yang menyebut nama Sunda adalah naskah Carita Parahyangan (kropak 406). Naskah ini disusun pada akhir abad ke-16, serta ditulis pada daun lontar menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno. Dalam naskah ini, terdapat beberapa kalimat yang menyebutkan tentang “tohaan di Sunda” yang berarti “yang dipertuan di Sunda”.
Sumber naskah-naskah lokal ini, pastinya sangat memberikan referensi mengenai nama Sunda. Selain naskah, nama Sunda juga disebutkan dalam berita-berita asing. Berikut ini diantaranya:
Berita asing
Berdasarkan catatan sejarah, sumber berita asing pertama yang menyinggung nama Sunda adalah dari seorang penulis Tionghoa yang bernama Zhào Rŭkuò pada tahun 1225. Ketika itu dalam laporannya “Zhū Fān Zhì”, menjelaskan tentang adanya pelabuhan xīntuō (Sunda) yang kemungkinan merujuk pada pelabuhan Kalapa.
Selain dari sumber Tiongkok, berita asing dari Portugis juga sempat menyebutkan istilah Sunda. Dan sumber dari Portugis tersebut di antaranya adalah “Suma Oriental” karya Tomé Pires (1512-1515), yang menyebutkan bahwa adanya kerajaan di barat pulau Jawa yang mengadakan hubungan dagang dengan Portugis bernama “regño de çumda” yang berarti “Kerajaan Sunda”.
Sementara itu, Duarte Barbosa dalam buku karyanya yang berjudul “O Livro de Duarte Barbosa” (1516) sempat menyebutkan kalimat ini “…çunda que tem muita pimenta…”. Yang mana kalimat tersebut artinya adalah “Sunda yang memiliki banyak lada”.
Dam memang tampaknya pada sekitar abad ke-13 hingga abad ke-16, nama Sunda mulai digunakan oleh orang asing. Seperti misalnya mereka para penjelajah ataupun pedagang, serta tetangga Jawa, buat sebagai toponim dalam mengidentifikasi bagian barat pulau Jawa.
Sunda Dalam Istilah Geologi
Penggunaan istilah Sunda juga sering dibuat sebagai acuan untuk wilayah kepulauan di Nusantara. Seperti misalnya di buku “The Geography” yang ditulis sekitar tahun 150 M oleh Claudius Ptolemy. Ya karena dalam buku tersebut, ia menyebut istilah “Sundae” (Sindae juga disebutkan sebagai variasi dari nama Sunda dalam catatan Ptolemy) yang terdiri dari tiga pulau.
Meski demikian disana juga ada yeng berkomentar bahwa beberapa orang ada yang mengatakan jumlahnya lima pulau. Terus catatan Ptolemy ini juga sering dianggap sebagai acuan oleh para penjelajah Eropa untuk mengidentifikasi wilayah kepulauan di sebelah tenggara India.
Sementara itu terkait kata “Sunda” yang tertulis sebagai “Sindae” dalam buku Ptolemy, sejarawan lain seperti Arnold Hermann Ludwig Heeren (1760-1842), seorang sejarawan Jerman, dalam bukunya “Historical Researches into the Polics, Intercourse, and Trade of the Principal Nations of Antiquity” memberikan komentar yang sepertinya juga memaklumi adanya sedikit perbedaan tersebut.
Sedangkan dalam kartografi Prancis, Kepulauan Sunda dikenal dengan istilah “Isles de la Sonde”, yang mana kalau diterjemahkan secara kasarnya, diartikan sebagai “kepulauan [tempat] eksplorasi”. Hal itu dikarenakan pada saat bangsa Portugis datang ke Nusantara, mereka menjelajahi bagian barat pulau Jawa, yang mana ketika itu dikuasai oleh Kerajaan Sunda.
Jadi oleh sebab itu, pada akhirnya mereka mengenal wilayah ini sebagai Sunda. Selain itu dalam kartografi mereka, Sunda dibagi menjadi dua bagian. Yaitu Soenda Mayor yang mengacu pada pulau-pulau di bagian barat yang berukuran besar, dan Soenda Minor yang mengacu pada pulau-pulau di bagian timur yang berukuran kecil.
Keterangan: Sumber asli artikel berasal dari sini, namun dengan beberapa sedikit perubahan.

Menarik sekali melihat bagaimana sejarah dan pemahaman geografis telah membentuk konsep Sunda. Sunda, sebagai nama wilayah, tampaknya mengandung makna yang dalam dan kaya sejarah. Semoga pengetahuan tentang wilayah ini terus berkembang dan memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang asal-usul dan kehidupan di wilayah tersebut.
ReplyDeleteTerima kasih mas bro, atas tambahan infonya.. 🙏
Delete